Teori Big Bang Diragukan : Semesta Tak Memiliki Awal dan Akhir
bbcnews/AP/san
Apa yang bakal terjadi jika teori Big Bang itu ternyata
salah" Bagaimana jika ternyata semesta tidak pernah memiliki awal dan
akhir" Dua ahli fisika, yakni Paul Steinhardt dari Princeton University
dan Neil Turok dari Cambridge University memunculkan pertanyaan ini lewat
konsep baru yang mereka tawarkan.
Teori Big Bang, selama beberapa dekade, dipercaya memberikan penjelasan
paling masuk akal tentang kelahiran alam semesta. Teori ini menerangkan bahwa
semesta lahir sekitar 14 miliar tahun lalu lewat dentuman besar entitas zat dan
energi.
Segera setelah ledakan pertama tersebut, semesta meluas dengan
cepat, dalam sebuah fenomena yang disebut para astronom sebagai inflasi. Proses
perluasan semesta berlanjut dengan periode sangat singkat dan pendinginan
sangat cepat, diikuti dengan ekpansi yang lebih tenang. Big Bang menjadi awal
pembentukan ruang dan waktu.
Tapi model tersebut, dalam kaca mata Steinhardt dan Turok,
memiliki beberapa kekurangan. Model tersebut tidak dapat menerangkan apa yang
terjadi sebelum Big Bang dan menjelaskan hasil akhir dari semesta.
Akhir Teori Big Bang
Steinhardt dan Turok dari Cambridge, dalam laporan di jurnal
Science, menguraikan bahwa Big Bang hanyalah salah satu bagian dari pembuatan
semesta, tapi bukan pelopor dari kelahiran semesta. Ia hanya bagian kecil dari
proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir.
Sehingga penentuan umur semesta, yang muncul dari teori Big Bang,
merupakan kesimpulan mengada-ada. Penambahan dan penyusutan semesta terjadi
secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun.
"Waktu tidak mesti memiliki awal," ujar Steinhardt dalam
wawancara telepon dengan Associated Press. Ia mengatakan bahwa teori waktu
sebenarnya hanya transisi atau tahap evolusi dari fase sebelum semesta ada ke
fase perluasan semesta yang ada saat ini.
Para ilmuwan yang menyokong teori Big Bang melihat ekspansi
semesta ditentukan oleh sejumlah energi yang memperlambat dan mempercepat
ekspansi. Energi yang memperlambat ekspansi ini kemudian bergerombol dalam
galaksi, bintang dan planet. Energi yang mempercepat ekspansi ini diistilahkan
sebagai "energi gelap".
Namun Steinhardt dan Turok melihat bahwa materi semesta tidak
sekadar terdiri dari energi biasa dan "energi gelap", tapi juga
"spesies ketiga". "Kami melihat rasio energi yang membentuk
semesta adalah 70 persen materi unik dan 30 persen materi biasa," ujar Steinhardt.
Materi biasa yang dimaksud Steinhardt adalah materi yang membuat
ekspansi semesta lebih pelan, yang mengijinkan gravitasi menciptakan galaksi,
bintang dan planet, termasuk bumi.
Sementara percepatan ekspansi didorong oleh "energi
gelap" yang menyatukan sejumlah zat dan energi. "Energi ini, sekali
mengambil alih semesta, mendorong segala seuatu pada pusat percepatan. Sehingga
semesta akan berukuran dua kali lipat setiap 14 hingga 15 miliar tahun
sepanjang ada energi gravitasi yang mendominasi semesta," ujar Steinhardt.
Dentuman besar muncul ketika "energi gelap" mengubah
karakter ini. Dengan alasan inilah, kedua ilmuwan fisika tersebut menolak
menerima argumen bahwa Big Bang merupakan penyebab kelahiran alam semesta.
Karena semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi.
Penulis kosmologi Marcus Chown Concedes mengakui pembuktian model
semesta memang rumit. Ia bahkan mengatakan sejarah semesta adalah sejarah
kesalahan kita sebagai manusia.
Karena kita hendak menyelidiki materi yang luar biasa besar,
sementara kita hanya bisa duduk di sebuah planet kecil yang menjadi bagian dari
materi tersebut.
Sumber : Sinar Harapan (29 April 2002)